9 Mimpi Rasulullah

Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: "Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan.."
1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatang oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.
2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.
3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.
4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab,tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.
5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga dihalang dari meminumnya,ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.
6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.
7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita disekelilingnya,sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-menderang.
8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya,maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya,lalu berbicara mereka dengannya.
9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya,maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut. BERSABDA RASULULLAH SAW,
"SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU YANG LAIN WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT"

Kisah Cinta Khadijah r.a dan Rasulullah SAW


Siapakah khadijah?
Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.
Banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.
Bermimpi melihat matahari turun kerumahnya
Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya merata kesemua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya.
Mimpi itu diceritakan kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.” “Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh. “Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat. “Dari suku mana?” “Dari suku Quraisy juga.” Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?” “Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur. Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai sepupuku?” Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”
Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.
Lamaran dari khadijah kepada Rasulullah s.a.w
Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata
Khadijah: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan. Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya)
Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.
Muhammad SAW: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”

(Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban)
Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,”. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak, meneliti).

Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandung isyarat
Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”.

khadijah (Khadijah tertunduk lalu melanjutkan): “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.
Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawapan, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab. Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Rasulullah SAW minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya.
Rasulullah SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.
‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.
‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”
Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah:
Khadijah : “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius. “Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.” “Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.
‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.”
Khadijah yang cantik
Sebelum diajak bermusyawarah, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya:
Nafisah : “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”

Nafisah “Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”
Rasulullah SAW: “Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
Nafisah : “Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”
Usaha Nafisah berhasil. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerimapemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.
Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan yang utama karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya. Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli. Maka diadakanlah majlis yang penuh keindahan itu.
Hadir Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita yang berkenaan.
Pernikahan Muhammad dengan Khadijah
Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”. “Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah. “Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.
Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.
Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad.
Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar. “Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.

“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat. “Semoga Allah memberkati pernikahan ini”. Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.
Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !”
Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”. (Adh-Dhuhaa: 8)
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.
Dijamin Masuk Syurga
Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).
Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya. Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang disampaikan Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:
“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita. “Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Bukankah engkau orang yang senantiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar? Bukankah engkau senantiasa menyantuni anak yatim piatu, menghormati tamu dan mengulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”
Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy. Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain yaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.
Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: “Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.
Wanita Terbaik
Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW. terhadap peribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam kebimbanga, dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak ku dapatkan dari isteri-isteri yang lain”.
Putera-puteri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dianggap sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.
Perjuangan Khadijah
Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu berdiri di belakang da’wah Islamiah, mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu’minin, sebaik-baik isteri dan teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.
Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira’. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa.”
Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, padahal di hadapan kita ada “wanita terbaik di dunia,” Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mu’minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat menjadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.
Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga. Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam istananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hidupnya.
Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata :”Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.” [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata:"Keshahihannya telah disepakati."]
Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia, hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ? Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu’min yang orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.
Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.
Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah berkata :”Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku.” Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata :”Gembiralah dan teguhlah, wahai, putera pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini.” Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali pe neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya wanita ideal.
Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya :”Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :”Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Maka Khadijah r.a. menjawab :”Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).”
Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da’wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan hartanya.
Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia.” [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]
Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :”Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.” [Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]
rujukan:Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW karangan Muhammad Ibrahim Saliim

Kambing Ke?


Assalamualaikum sahabat & sahabiahku, alhamdulillah ana masih diberi kesempatan untuk menunaikan tanggungjawab sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi ini. Alhamdulillah juga hari ini ana di ajak oleh seorang sahabat yang sangat baik untuk bersama-sama mendengar ceramah tasawuf daripada Syeikh Nuruddin Al-banjari. Saat pertama kali ana memandang wajah syeikh kelahiran Indonesia ini ana sangat kagum kerana wajahnya disinari dengan NUR yang sangat terang. Bila mendengar kata-katanya pula ana terpegun kerana keluasan dan ketinggian ilmunya dalam keadaan rendah hati dan tawadhu'nya. Subhanallah, ana teringin sekali memiliki kelebihan seumpama ini. kelebihan yang Allah beri kepada para pejuang agamaNya. Doakan ana ye sahabat!

Walaupun ana tak berkesempatan mendengar ceramahnya sehingga tamat. namun waktu yang singkat itu sangat banyak menimbunkan ilmu dan nsaihat. benarlah majlis ilmu itu ibarat taman-taman syurga. Ana dapat rasakan keindahan berada di taman syurga kerana apabila ana terpaksa keluar dari majlis itu ana rasa sangat hampa dan kecewa dan rugi sekali kerana banyak rahmat Allah yang ana tak kutip dalam majlis itu. Ana teringin nak kongsikan pengisian yang ana dapat tetapi ana rasa ana nak kongsi semua kerana terlalu bermanfaat. tetapi dalam banyak-banyak ilmu yang ana dapat hari ini. ada satu kisah yang bukan dalam dalam topik ceramah beliau tetapi sangat beri kesan yang mendalam pada hati ana. kisah ini bertajuk TOK PENGHULU DAN KAMBINGNYA.

Begini kisahnya...
pada suatu hari seorang tok penghulu kampung ingin menjual lembu peliharaannya ke pasar. setibanya dia di pasar, dia sangat gembira kerana lembunya terjual dengan harga yang tinggi iaitu 3000 dinar. lalu dengan duit itu beliau ingin membeli pula kambing untuk dibawa pulang kerumahnya. Semasa beliau berurus niaga membeli kambing, terdapat segolongan pemuda yang sedang memerhati dan mempunyai niat yang tidak baik terhadap tok penghulu tersebut. lalu sekumpulan pemuda itu berpakat untuk berpecah pada 3 kumpulan. 1 kumpulan akan menunggu di kawasan pasar. 1 kumpulan lagi akan menunggu di tengah jalan pulang tok penghulu dan 1 kumpulan lagi akan menunggu di rumah tok penghulu tersebut. Lalu pemuda-pemuda itu berpecah dan menunggu kehadiran tok penghulu tersebut.

Tibalah masanya tok guru pulang kerumah dengan membawa kambingnya. lalu tok penghulu terserempak dengan kumpulan pertama pemuda yang berniat jahat itu.

Pemuda 1 : MasyaAllah tok penghulu...!!!! cantiknya anjing ini!!!
Tok Penghulu : Kamu ni buta ke? ini kambing, bukan anjing!
Pemuda1 : tidak! ini anjing, bukan kambing!

lantaran tidak mahu terus berbalah, maka tok penghulu mengabaikan pemuda itu dan meneruskan perjalanannya. Lalu tok penghulu terserempak pula dengan pemuda kedua yang siap menunggu di tengah-tengah perjalanan.

Pemuda 2 : MasyaAllah Tok penghulu!!! dimana Tok membeli anjing ini?? sangat cantik sekali!
Tok Penghulu : Ini bukan anjing! ini kambing! (nada Tok penghulu semakin tegas)
Pemuda 2 : bukan!  ini anjing! bukan kambing! 
Tok Penghulu : Kalau ini anjing, mengapa ia mengembek?
Pemuda 2 : Tidak! itu bunyi anjing! itu adalah anjing! tok penghulu telah membawa pulang seekor anjing!

Tok penghulu juga tidak mahu meneruskan perbalahan dan meneruskan perjalanan pulang. Lalu, setibanya dia si kawasan rumahnya, terserempak pula tok penghulu dengan pemuda ketiga.

Pemuda 3 : MasyaAllah tok!!! dimana tok membeli anjing ini! anjing ini cantik sekali!
Tok Penghulu : Aku hairan..adakah ini benar2 anjing? setiap orang yang aku jumpa tadi mengatakan ini adalah anjing! 
Pemuda 3 : Ya tok! ini adalah anjing! macam mana tok boleh kata ini kambing sedangkan ini adalah seekor   ANJING!
Tok Penghulu : Ya! baru aku sedar ini adalah anjing.

lalu tok penghulu pulang ke pasar dan memulangkan kambing yang disangka anjing itu.

Apa MORAL cerita ini?????

Pertama, Keadaan sekeliling sangat mudah mempengaruhi diri kita.
ya! hari ni kita berhadapan dengan keadaan sekeliling yang berbagai-bagai. kebanyakannnya keadaan yang sangat mudah meruntuhkan iman. keadaan masyarakat yang sangat lalai dalam kehidupan juga mampu menyebabkan kita mudah terpengaruh. Jadi, binalah dan carilah keadaan masyarakat yang mampu membina iman dan jatidiri yang mulia andai kita ingin menjadi orang yang beriman dan berakhlak mulia. bukan ana kata MESTI. tapi seboleh-bolehnya berusahalah hidup dalam masyarakat yang hidup dalam ibadah andai kita mahu kuat beribadah. tapi segalanya bergantung pada diri kita sendiri. andai dah diberikan ruang dan peluang untuk memperbaiki diri namun tak menggunakannya, sama saja dengan orang yang tidak hidup dala suasana ibadah tersebut. 

Kedua, Yakinlah dengan ilmu yang benar.
Andai kita yakin ilmu yang kita miliki itu adalah benar dan sahih sumbernya. maka berpegang teguhlah kerana ilmu itu yang akan menerangi kehidupan. andai tiada ilmu maka gelaplah hati. anjing tetap anjing. kambing tetap kambing! jadi tuntutlah ilmu dengan bersungguh-sungguh. lengkapkan diri dengan ikmu dunia dan akhirat agar kita tak mudah dipermainkan dan supaya kita lebuh dihormati. Jadilah Khalifah yang berilmu.

Wallahua'alam bis sawab..

p/s : mohon betulkan ana andai ada kesilapan atau percanggahan pendapat.




Siapa Jodoh Anda???


sumber : ustaz.blogspot.com

Persoalan Jodoh termasuk perkara yang berada dibawah bab takdir dan telah ditetapkan oleh Allah SWT semenjak azali lagi. Memahami masalah jodoh hendaklah dengan kefahaman Ahlul Sunnah Wal Jamaah yang diajarkan oleh Rasulullah agar kehidupan kita dilalui dengan pertunjuk yang sahih dan mencapai keredhaan Allah SWT.

Salah Faham Berkenaan Jodoh

Saya sendiri pernah tersalah faham di dalam bab jodoh, ianya berlaku kepada saya sewaktu masih muda remaja dahulu dan sibuk mengejar cinta serta mengharapkan jodoh yang istimewa dan akhirnya memang saya mendapat jodoh yang benar-benar istimewa. 

Saya berkahwin dengan seorang gadis arab, anak perempuan seorang ulama sunnah di Yaman. Sewaktu itu saya cukup bergembira dan merasa sangat berbangga.

Walaubagaimanapun Allah lebih menyayangi saya.

Allah swt befirman : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. " (Al-Baqarah : 216)

Allah mengehendaki kebaikan kepada saya dengan menganugerahkan kepada saya sebuah perceraian sehingga melaluinya saya dapat memahami erti sebuah jodoh dan perkahwinan.

Tanpa penceraian tersebut nescaya saya tidak akan mengetahui dan memahami maksud jodoh sehingga ke hari ini. 

Alhamdulillah. 

Saya diberi izin oleh Allah SWT untuk berkahwin kali kedua apabila seorang bapa yang soleh menawarkan anak gadisnya kepada saya. Ketika itu wujud perbalahan di dalam jiwa saya yang membuatkan saya berfikir panjang ini disebabkan sebagai seorang ustaz (ketika itu sudah bergelar ustaz) saya memikirkan untuk mencari seorang gadis yang sempurna, wanita yang hebat dan mampu mengubati hati saya yang terluka dan cedera akibat perkahwinan terdahulu.

Kali ini mahu mencari yang paling comel, paling gebu, paling sempurna sehingga saya gariskan ciri-ciri isteri idaman saya yang persis bidadari.

Allah menyebut di dalam Al-Quran bahawa Syaitan akan menyesatkan manusia dengan pelbagai cara antaranya ialah dengan angan-angan yang memperdayakan : "Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka." (Al-Baqarah : 216)

Allah befirman : "Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka." (An-Nisa : 120)

Alhamdulillah, sekali lagi Allah memberikan kebaikan kepada saya dengan mendapat nasihat dan pertunjuk berguna daripada ulama-ulama sunnah di Yaman. Kata mereka, Allah tidak akan memberikan "bidadari" kepada anda di dunia tetapi di akhirat. Jadi jika anda mahukan wanita yang bertaraf bidadari di dunia maka kahwinilah dengan niat yang betul, jalanilah kehidupan rumahtangga dengan betul, jadilah suami yang betul dan InsyaAllah isteri anda akan menjadi bidadari di akhirat. 

Daripada Ibnu Umar r.a., katanya, saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Setiap orang daripada kamu adalah pemimpin dan setiap seorang dari kamu akan ditanya perihal kepimpinannya. Pemimpin adalah yang bertanggungjawab memimpin dan akan ditanya perihal yang dipimpin olehnya. Seorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya perihal kepimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan ditanya perihal kepimpinannya. Buruh adalah pemimpin dalam harta majikannya dan akan ditanya perihal kepimpinannya. Jadi setiap seorang dari engkau semua itu adalah pemimpin dan tentu akan ditanya perihal kepimpinannya. "(Hadis sahih Muttafaq 'alaih) 

Syeikh lalu menceritakan perihal Umar RA yang turut mengalami masalah rumahtangga, bahkan rasulullah sebaik-baik manusia juga menghadapi masalah yang sama sekaligus menyedarkan saya "Mana ada manusia yang sempurna."

Diriwayatkan bahwa seorang pemuda datang ke rumah Umar bin Khatthab Radhiallahu 'anhu hendak mengadukan keburukan akhlak isterinya. Maka ida berdiri di depan pintu menunggu Umar keluar. Lalu dia mendengar isteri Umar bersuara lantang pada suaminya dan membantahnya sedangkan Umar diam tidak membalas ucapan isterinya. Pemuda itu lalu berbalik hendak pergi, sambil berkata : "Jika begini keadaan Umar dengan sifat keras dan tegasnya dan dia seorang amirul mukminin, maka bagaimana dengan keadaanku ?".

Umar keluar daripada rumahnya dan melihat ada orang beredar dari rumahnya lalu memanggil pemuda itu dan berkata : "Apa keperluanmu wahai pemuda ?" Dia menjawab : "Wahai Amirul Mukminin, pada mulanya aku datang hendak mengadukan keburukan akhlak isteriku dan sikapnya yang membantahku. Lalu aku mendengar isterimu berbuat demikian, maka aku pun kembali sambil berkata :"Jika demikian keadaan amirul mukminin bersama isterinya, maka bagaimana dengan keadaanku ?" maka Umar berkata : "Wahai saudaraku. Sesungguhnya aku bersabar atas sikapnya itu kerana hak-haknya padaku. Dia yang memasakkan makananku, yang membuatkan rotiku, yang mencucikan pakaianku, yang menyusui anak-anaku dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram. Kerana itu aku bersabar atas sikapnya". Pemuda itu berkata : "Wahai Amirul Mukminin, demikian pula isteriku". Berkata Umar "Bersabarlah atas sikapnya wahai saudaraku ..." [Kitab Al-Kaba'ir oleh Dzahabi hal. 179]

Janganlah Melihat kepada Keburukkan Seseorang kerana tidak akan wujud Pengakhirannya tetapi lihatlah kepada Kebaikan yang akan membolehkan Kita menumpang dan menikmatinya.

Saya lalu terus bersetuju untuk mengahwini seorang gadis mentah, muda seusia 17 tahun untuk menjadi isteri saya tanpa teragak-agak. Alhamdulillah, setelah beberapa tahun kini dialah bidadari saya yang merupakan wanita paling indah yang pernah saya temui.

Anda yang bertanggungjawab "berusaha" menjadikan pasangan anda sebagai bidadari atau lelaki soleh yang anda inginkan melalui usaha berterusan dan perjuangan melaksanakan hal tersebut beroleh pahala. 


(Sila Klik gambar untuk membesarkan Imej agar lebih jelas)
Berdasarkan carta jodoh di atas ANDA akan mendapati bahawa JODOH kita sebenarnya sudah DITAKDIRKAN iaitu bermaksud ianya sudah ditetapkan oleh ALLAH SWT semenjak azali lagi.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a, katanya: Rasulullah s.a.w seorang yang benar serta dipercayai bersabda: "Kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Sebaik sahaja genap empat puluh hari kali kedua terbentuklah segumpal darah beku. Manakala genap empat puluh hari kali ketiga bertukar pula menjadi seketul daging. Kemudian Allah s.w.t mengutuskan malaikat untuk meniupkan roh serta memerintahkan supaya menulis empat perkara iaitu ditentukan rezeki, tempoh kematian, amalan serta nasibnya samada mendapat kecelakaan atau kebahagiaan. Maha suci Allah s.w.t di mana tiada tuhan selain-Nya." (Sahih Muslim, Kitab Takdir, no: 4781)
Tidak kira apakah jalan yang anda gunakan untuk berkahwin maka ianya sudah pun ditetapkan oleh yang demikian mengapakah kita harus menggunakan JALAN yang HARAM sedangkan dengan JALAN yang HALAL pun kita boleh mendapatkannya ?

Janganlah mencelakakan diri kita dengan memilih jalan yang haram dan berdosa kerana kelak kita akan menanggung akibatnya di akhirat. 
Kenapa bimbang belum mendapatkan jodoh ? 

Apakah anda akan ditakdirkan akan berkahwin atau ditakdirkan tidak akan berkahwin TERNYATA sudah tidak sepatutnya dipertikaikan lagi kerana ianya SUDAH DITETAPKAN dan hal tersebut tidak berubah. 

Jadi mengapa bimbang dan risau ? Orang yang beriman kepada Takdir maka tiada kebimbangan dan kerisauan di dalam jiwa mereka kerana menyakini segala sesuatu sudah pun ditetapkan.

Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abu Darda r.a dari Nabi s.a.w bersabda, ‘Tidak sekali-kali masuk ke dalam syurga (Allah), orang yang mendustakan takdir (Allah).’ (lihat: Silsilah hadis Sahihah, nombor 675).

Apa yang perlu anda risaukan ialah bagaimana harus berusaha, jalan yang perlu dipilih agar memenuhi PERINTAH ALLAH itu sahaja. 

Siapakah Pasangan Anda ?

Anda tidak perlu TAKUT siapakah jodoh anda kerana pasangan anda sudah pun ditentukan oleh Allah SWT dan apa yang perlu anda lakukan ialah untuk berusaha mendapatkan calon yang soleh dan solehah sebagai memenuhi PERINTAH ALLAH dalam keadaan anda penuh sedar dan yakin ianya sudah ditetapkan. 

Anda berusaha semata-mata kerana mahu memenuhi perintah Allah. SWT. 


Memilih jodoh yang baik 

Berdasarkan carta di atas, maka anda diharapkan dapat memahami bahawa Kehendak Allah yang disukai dan diredhai-Nya (Iradah/Kehendak Syar'iyah) dapat diketahui oleh kita dengan ILMU berdasarkan Kitab dan Sunnah.

Manakala Kehendak Allah yang menyebabkan berlakunya segala sesuatu, yang mengizinkan terjadi tiap-tiap perkara (disebut Iradah/ kehendak Kauniyah) tidaklah bermakna ianya disukai dan diredhai oleh Allah SWT.

Tiada sesiapa termasuk anda dan ulama dapat mengetahui siapakah lelaki atau wanita yang sesuai atau baik untuk anda. Mr. Right atau Mrs. Right tidak akan dapat diketahui oleh Kita selama-lamanya tanpa WAHYU di sisi.

Allah swt befirman : "(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib ,maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu." (Jin : 26)

Memandangkan Rasulullah telah wafat maka tiada sesiapa lagi boleh mengetahui siapakah yang lebih sesuai untuk kita dan siapakah pula tidak. Majoriti orang "menyelidik", "mengkaji" latar belakang calon pasangan masing-masing dengan tujuan "merisik" mencari calon yang paling sesuai dan terbaik. 

Hakikatnya hanya ALlah yang mengetahui, boleh jadi setelah dikaji "di dalam makmal"maka didapati seorang wanita itu baik untuk kita atau sebaliknya namun setelah berkahwin dan hidup bersama maka dia kemudiannya berubah hati dan menjadi jahat serta menyeleweng.

“Cintailah apa yang kamu cintai sekadarnya saja, boleh jadi apa yang kamu cintai itu menjadi sesuatu yang paling kamu benci pada suatu hari nanti. Bencilah Sesuatu yang yang kamu benci sekadarnya saja, boleh jadi ia akan menjadi sesuatu yang paling kamu sukai pada suatu hari nanti.”
(HR. Tirmidzi)


Hati manusia boleh berubah ibarat pantai.

Jangan membuang masa mencari Mr. Right atau Mrs Right sehingga mengabaikan tanggungjawab kita yang banyak. Masa kita terhad, maka perlu dipergunakan semaksima mungkin di dalam gerak kerja ibadah kita seharian.

Kita harus perlu sentiasa TEGUH di atas Perintah ALLAH SWT.

Aisya ra., berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’(hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah) 
Ambilah iktibar dari Kisah Ummu Habibah (Ummul Mukminin), Ramlah binti Abu Sufyan yang telah mengahwini Ubaidullah bin Jahsy, seorangmuslim seperti beliau. Tatkala kekejaman kaum kafir terhadap kaum muslimin, Ramlah hijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Disanalah beliau melahirkan seorang anak perempuan, yang diberi nama Habibah. Dengan nama anaknya inilah beliau dijuluki (Ummu Habibah).

Allah menguji beliau dengan situasi yang dahsyat apabila suaminya murtad daripada Islam sewaktu berada di Habsyah dan berusaha memurtadkannya. Beliau tetap istiqamah di atas Islam dan akhirnya berpisah dengan suami tercinta kerana agama. Hal ini akhirnya menjadi PELUANG kepadanya untuk menjadi Ummul Mukminin apabila beliau kemudiannya dipinang oleh Rasulullah SAW. 
Rasulullah bertemu dengannya pada tahun ke enam atau ke tujuh Hijriyah. Waktu itu Ummu Habibah berumur 40 tahun.

Islam Mengizinkan Lelaki Mukmin berkahwin dengan Wanita Ahli Kitab 
"Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan* diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (Al-Maidah : 5)

Mengapakah Allah mengizinkan lelaki yang beriman mengahwini wanita ahli kitab ? Jawapannya kerana persamaan Aqidah di antara kita dan mereka. Perbezaan di antara ahli kitab dan umat Islam ialah berkait masalah syariat demikian yang dimaksudkan dengan keizinan bolehnya berkahwin di antara lelaki muslim dan ahli kitab iaitu mestilah ahli kitab yang memiliki kepercayaan Aqidah yang sahih dan benar berdasarkan kitab samawi terdahulu bukannya merujuk kepada ajaran Yahudi dan Kristian yang SYIRIK dan mensyirikkan Allah di dalam ajaran mereka sehingga menjadikan mereka orang musyrikin dan bukan lagi ahli kitab.

Di dalam “Sahih Bukhari” terdapat sebuah riwayat yang berasal dari Abdullah bin Umar r.a. bahawasanya ia pernah ditanya tentang perkahwinan antara lelaki muslim dan wanita nasrani atau yahudi, Abdullah bin Umar menjawab : “Allah mengharamkan wanita musyrik dikahwini oleh lelaki muslim, Aku tidak tahu syirik apakah yang lebih besar daripada seorang isteri yang mengatakan bahawa Tuhannya ialah Isa, padahal beliau itu adalah salah seorang dari hamba Allah s.w.t. Jika ia tidak mengatakan hal itu, ia tetap dipandang sebagai wanita ahlul kitab, walaupun ia meyakini kesucian Isa al Masih atau meyakini kesucian bondanya Maryam atau meyakini kesucian roh kudus dalam bentuk yang berlainan dari kepercayaan orang muslim; selama ia tidak menyekutukan Allah”. (hadis Sahih Bukhari) 

Hal ini membuktikan bahawa Islam menganggap perkahwinan itu cuma alat dan tools untuk merealisasikan perjuangan dan tuntutan ibadah bagi menyalurkan keperluan fitrah manusia ke arah yang halal.

Lantas untuk orang yang sedar akan segera memahami bahawa adalah tidak perlu untuknya mengambil masa yang lama untuk memberi respon kepada jemputan atau pinangan perkahwinan apabila dirinya dipinang jika cara dan kaedah yang digunakan adalah menurut syarak.

Manfaatkan sahaja peluang dan rezeki yang diberikan untuk digunakan ke jalan Allah SWT.

Semuanya berbalik kepada diri kita sendiri apakah kita sebenarnya mahu atau mampu menjadi hamba Allah yang soleh dan solehah bukan melihat kepada orang lain untuk dijadikan alasan di atas kegagalan kita. 

Asiah merupakan isteri Firaun, tetapi dia berjaya menjadi wanita yang solehah dan memasuki syurga Allah.

Allah befirman : "Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman." (At-Tahrim : 11)

Manakala Isteri Nabi Luth pula merupakan ahli neraka sekalipun suaminya ialah Rasul dan Nabi.

Allah befirman : "Kecuali isterinya. Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya dia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya)." (Al-Hijr : 60)

Allah befirman : "Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)." (An-Naml : 57) 

Hal ini sebenarnya bertitik tolak kepada ILMU dan kefahaman yang sahih menurut KItab dan Sunnah untuk menyedari kewajipan dan peranan kita di dalam agama.

Tugas anda ialah berusaha mengikut cara yang sahih dan menjalani ibadah dengan segigih mungkin kepada Allah SWT manakala bakinya berserah kepada Allah untuk menetapkan keputusan di atas usaha kita.

Kita sudah berusaha dan akan terus berusaha, resultnya bukan urusan kita. 

"Keputusan Perang Uhud : SERI, bukan KALAH" - Analisis Syekh Al-Mubarakfuri


Benarlah kisah-kisah dalam al-Quran hanya akan menjadi IBRAH kepada mereka yang ULIL-ALBAB (tajam pemikiran dan tidak simple-minded). Terlalu banyak yang perlu diperbetulkan pada ummah apabila berkomunikasi dengan fakta sirah. Bukan sekadar sumber kesahihan sesuatu fakta sirah, tetapi bagaimana mentafsirkan fakta yang sudah sahih itu belum suatu upaya yang mudah diperolehi melainkan kita berguru dengan para ulama yang diberikan "hikmah" oleh Allah S.W.T. Antara fakta dan persepsi kepada fakta, kekadang cara kita mentafsir dan mempersembah sesuatu episod terpenting dalam hayat perjuangan Rasulullah kurang tepat atau kurang menyeluruh. 


Saya tidak berhasrat untuk mengungkap satu persatu fakta tersurat secara kronologikal mengenai perang Uhud. Para pembaca boleh manfaatkan Dr Google atau membuat pembacaan sendiri mengenai perang Uhud dan adegan akhirnya di Hamra' al-Asad  Apa yang menarik perhatian saya adalah analisis tajam yang dibuat oleh Almarhum Al-Muhaddith Syekh Sofiurrahman al-Mubarakfuri (sedikit profail di sini). Karya beliau, Al-Raheeq al-Makhtum ini telah mendapatkan pengiktirafan juara sirah nombor satu dalam muktamar " Sayembara Buku Sirah Nabawiah" anjuran Rabithah al-Alam al-Islami.

Cukup menyentuh hati kisah Hamra' al-Asad dari Syekh Nabil al-'Uudhi. Sesungguhnya peranan Ma'bad di Uhud sama seperti Nuaim Mas'ud dan Huzaifah di Ahzab. Bacaan Nabi mengenai serangan mendadak berskala besar Quraisy ke atas Madinah selepas Uhud benar. 3 hari penantian di Hamra al-Asad, Abu Sufyan dan Quraisy tidak muncul-muncul. Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati-hati mereka. Uhud hakikatnya berkesudahan dengan "intishar al-ma'nawi" Rasulullah S.A.W.
Analisa beliau sangat menarik.  Saya merumuskan :

- Bagaimana pemenang perang dari pasukan kuffar boleh mendabik dada menang dalam keadaan tidak mendapat sebarang tawanan perang, harta rampasan perang dan mahupun OR (Madinah) tidak dimusnahkan walhal Madinah hanya sekitar 5-6 kilometer sahaja dr Uhud ? 

- Menjadi adat perang Arab, mereka akan berpesta sekurang-kurangnya sehari dua di tempat mereka menang, namun kenapa Abu Sufyan tidak melakukannya, bahkan berundur lebih awal tanpa segan silu sebelum tentera Islam berundur. 

- Kenapa Abu Sufian tidak membuka pusingan ketiga peperangan ketika beliau mampu melakukan secara moralnya dan kemampuan fizikalnya ? 

- Bagaimana anda mengatakan tentera Islam kalah sedangkan sebahagian besar tentera tidak undur sedikitpun, teruskan berjuang untuk mengelakkan ada para sahabat menjadi tawanan walaupun seorang, bahkan Nabi tidak membuat 'kenyataan rasmi' pun bahawa baginda mengaku kalah mahupun mengangkat bendera putih.

Demikianlah antara analisis menarik Mubarakfuri.

"Suatu hakikat yang tidak syak lagi bahawa peperangan Hamra' al-Asad bukanlah satu peperangan yang berasingan, malah ia merupakan sebahagian dari peperangan Uhud, malahan sambungan kepada peperangan Uhud itu sendiri dan siri terakhir dari keseluruhan tahap-tahap dan penceritaannya secara terurai, di ketika para pengkaji menyelidiki mengenai kesudahan peperangan ini, apakah ianya suatu kemenangan atau tidak ? ...


Walaubagaimanapun, satu perkara yang tidak diragui, di mana tentera Makkah tidak dapat menawan institusi ketenteraan Islam disebabkan sebahagian besar tentera al-Madinah tidak berundur lari dari medan pertempuran meskipun berlaku huruhara di barisan tentera Islam, malah seluruh mereka menentang tentera Makkah hingga dapat mereka berkumpul semula di sekeliling qiadah (pimpinan) dan tidak membiarkan tentera lawan memburu askar-askarnya. 


Justeru itu tidak ada seorang pun yang menjadi tawanan tentera musyrikinmalah tentera musyrikin tidak mendapat sebarang harta rampasan perang pun dari kaum muslimin dan tentera musuh tidak pula (bersedia) membuka medan pertempuran ketiga (sebagai kata putus pemenang peperangan yang sebenar) meskipun tentera Islam masih di pengkalan perjuangannya. 


Demikian juga tentera musyrikin tidak pula bermukim di medan pertempuran untuk selama sehari, dua atau tiga hari seperti yang biasa dilakukan oleh pihak yang menang sebagai tradisi amalam (Arab) di masa itu, malah (tanpa segan silu) dengansegera pula berundur dari situ terlebih dahulu, meninggalkan medan pertempuran lengang sahaja sebelum tentera Islam meninggalkannya. 


Tidak pula mereka berani menyerang Madinah untuk menawan kaum wanita sebagai rampasan perang dan harta-harta di sana sedangkan jarak Madinah dengan medan pertempuran hanya beberapa langkah sahaja, dalam keadaan ianya sudahterdedah dan terbuka kepada sebarang serangan.


Kesemuanya ini membuktikan kepada kita bahawa apa yang dipungut oleh Quraisy dari peperangan Uhud ini tidak lebih dari satu kesempatan dan peluang untuk mereka menimpakan kerugian yang teruk ke atas kaum muslimin di samping kegagalan mereka untuk membanteras dan menghapuskan tentera Islam, yang biasanya dilakukan oleh pihak penyerang di mana mereka tidak akan teragak-agak untuk membunuh kesemuanya tentera lawannya
  
(tambahan saya : termasuk membunuh Nabi S.A.W sendiri sebagai Perdana Menteri kerajaan Madinah gagal, dalam keadaan secara emosionalnya pula, bukankah dendam  kesumat kekalahan Badar tahun lepas dan kematian 20 dari 27 orang paling "hardcore" - menurut riwayat al-Maqrizi - untuk membantai dan membunuh Nabi termasuk Perdana Menteri mereka sendiri, Abu Jahal, semuanya mati di Badar), dalam keadaan seperti mana yang telah terjadi kepada tentera Islam, maka sebab itu untuk dikatakan bahawa tentera Quraisy memperolehi satu kejayaan adalah TIDAK, dan JAUH SAMA SEKALI.


Malah apa yang menguatkan lagi sikap kita di mana Abu Sufian bergegas untuk berundur dari medan pertempuran kerana beliau takut tenteranya akan mengalami kekalahan, seandainya beliau membuka semula medan pertempuran yang ketiga. Penegasan ini dapat diperhatikan dari sikap Abu Sufian terhadap peperangan pusingan ketiga iaitu Hamra' al-Asad itu.


Untuk itu, maka kita menegaskan bahawa peperangan ini adalah sebahagian yang tidak terpisah dari induknya (cerita asal dan tajuk utamanya), setiap pihak memperoleh bahagian masing-masing, kerugian dan keuntungan, di penghujungnya setiap pihak menarik diri tanpa memperlihat di mata lawannya sebagai lari dari medan peperangan dengan meninggalkan tapaknya ditawan oleh lawan. Inilah yang dikatakan bahawa ia suatu peperangan yang bersambung dengan (cerita) awalannya. 


Untuk itulah Allah menjelaskan dalam firmannya dalam surah an-Nisa : 104 :"Janganlah kamu lemah melawan kaum (musuh) itu, jika kamu mendapat kesakitan, mereka pun mendapat kesakitan juga sebagaimana kamu mendapat kesakitan. (tetapi) sedangkan kamu mengharapkan dari Allah apa yang mereka tidak harapkan."


(Ayat di atas) Allah menggambarkan perasaan yang dialami oleh satu kem sebagaimana yang dirasai oleh kem yang satu lagi, ini membawa erti di mana kedua-dua situasi adalahsetara, kedua-dua pasukan masing-masing pulang dengan tidak membawa kemenangan."

Pasukan Quraisy menumpang kebijaksanaan Khalid al-Walid cukup brilliant dengan tipu muslihat dan sanggup berkuda sangat jauh melebihi 13 kilometer untuk menyerang dari belakang tentera Islam di dari arah bukit Uhud tanpa disedari. Pasukan Islam pula menumpang kebijaksanaan Ma'bad bi Abi Ma'bad al-Khazaie pakar propaganda Nabi di Hamra' Asad (aksi final Uhud) yang mempengaruhi Abu Sufian, ketua tentera Quraisy membatalkan hasrat menyerang Madinah. Kuasa kebijaksanaan dalam peperangan adalah pengajaran sejarah yang sentiasa berulang.
(sumber foto : http://laxamana.multiply.com/)


Wallahu a'lam.

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya mereka (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (Ali Imran: 140).

Rujukan : 
Halaman 397-399, Ar-Raheeq Al-Makhtum Sirah Rasulullah S.A.W, Sheikh Sofiy al-Rahman Al-Mubarakfuri, terjemahan Mohd Darus Senawi Ali, terbitan usahama Cresent News (K.L) Sdn. Bhd dan Kumpulan Usahawan Muslim Sdn. Bhd.