Showing posts with label rasulullah. Show all posts
Showing posts with label rasulullah. Show all posts
Warkah
Tentera 4JJI
Berkata Benar (0)
Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: "Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan.."
1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatang oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.
2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.
3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.
4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab,tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.
5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga dihalang dari meminumnya,ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.
6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.
7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita disekelilingnya,sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-menderang.
8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya,maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya,lalu berbicara mereka dengannya.
9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya,maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut. BERSABDA RASULULLAH SAW,
"SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU YANG LAIN WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT"
Bab:
rasulullah
Warkah
Tentera 4JJI
Berkata Benar (1)
Siapakah khadijah?
Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.
Banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.
Bermimpi melihat matahari turun kerumahnya
Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya merata kesemua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya.
Mimpi itu diceritakan kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.” “Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh. “Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat. “Dari suku mana?” “Dari suku Quraisy juga.” Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?” “Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur. Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai sepupuku?” Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”
Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.
Lamaran dari khadijah kepada Rasulullah s.a.w
Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata
Khadijah: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan. Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya)
Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.
Muhammad SAW: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”
(Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban)
Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,”. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak, meneliti).
Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandung isyarat
Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”.
khadijah (Khadijah tertunduk lalu melanjutkan): “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.
Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawapan, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab. Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Rasulullah SAW minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya.
Rasulullah SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.
‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.
‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”
Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah:
Khadijah : “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius. “Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.” “Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.
‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.”
Khadijah yang cantik
Sebelum diajak bermusyawarah, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya:
Nafisah : “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”
Nafisah “Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”
Rasulullah SAW: “Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
Nafisah : “Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”
Usaha Nafisah berhasil. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerimapemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.
Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan yang utama karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya. Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli. Maka diadakanlah majlis yang penuh keindahan itu.
Hadir Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita yang berkenaan.
Pernikahan Muhammad dengan Khadijah
Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”. “Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah. “Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.
Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.
Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad.
Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar. “Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat. “Semoga Allah memberkati pernikahan ini”. Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.
Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !”
Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”. (Adh-Dhuhaa: 
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.
Dijamin Masuk Syurga
Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).
Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya. Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang disampaikan Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:
“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita. “Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Bukankah engkau orang yang senantiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar? Bukankah engkau senantiasa menyantuni anak yatim piatu, menghormati tamu dan mengulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”
Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy. Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain yaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.
Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: “Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.
Wanita Terbaik
Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW. terhadap peribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam kebimbanga, dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak ku dapatkan dari isteri-isteri yang lain”.
Putera-puteri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dianggap sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.
Perjuangan Khadijah
Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu berdiri di belakang da’wah Islamiah, mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu’minin, sebaik-baik isteri dan teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.
Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira’. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa.”
Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, padahal di hadapan kita ada “wanita terbaik di dunia,” Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mu’minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat menjadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.
Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga. Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam istananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hidupnya.
Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata :”Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.” [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata:"Keshahihannya telah disepakati."]
Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia, hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ? Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu’min yang orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.
Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.
Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah berkata :”Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku.” Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata :”Gembiralah dan teguhlah, wahai, putera pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini.” Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali pe neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya wanita ideal.
Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya :”Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :”Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Maka Khadijah r.a. menjawab :”Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).”
Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da’wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan hartanya.
Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia.” [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]
Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :”Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.” [Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]
rujukan:Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW karangan Muhammad Ibrahim Saliim
Warkah
Tentera 4JJI
Berkata Benar (0)
Tajuk : Alangkah indahnya hidup ini
Artist : Raihan
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenaganmu
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak pernah ku tatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat ku dakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya tuhan saja yang tahu
Kutahu cintamu kepada umat
Umati umati
Kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat ku tatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenaganmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak pernah ku tatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kurniakanlah syafaatmu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim
Artist : Raihan
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenaganmu
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak pernah ku tatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat ku dakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya tuhan saja yang tahu
Kutahu cintamu kepada umat
Umati umati
Kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat ku tatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenaganmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak pernah ku tatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kurniakanlah syafaatmu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim
Bab:
rasulullah
Warkah
Tentera 4JJI
Berkata Benar (0)
12 Rabiulawal menjelang lagi. Tarikh ini mengingatkan kita kepada keputeraan nabi junjungan kita Muhammad S.A.W yang berlaku lebih 14 kurun yang lalu. Insan pilihan Allah ini dilahirkan dengan penuh keistimewaan, sejak hari lahirnya hinggalah waktu wafatnya. Di hari kelahirannya, terpadam api biara Majusi yang tidak pernah padam sebelum itu, runtuhnya istana Kisra Parsi, Mekah diterangi cahaya putih dan pelbagai kejadian pelik lain.
Seminggu sebelum tibanya 12 Rabiulawal, masyarakat di Syria telah sibuk bercakap mengenai Rasulullah S.A.W melebihi dengan apa yang dilakukan mereka pada hari-hari biasa. Ulama’-ulama’ pula sememangnya mengambil kesempatan ini untuk mendidik masyarakat untuk cinta kepada nabi, sesuatu yang susah kita nak dapati di Malaysia. Suasananya begitu terasa. Hari ini pun aku mendengar khutbah Jumaat Sheikh Sariah mengenai cinta kepada Rasulullah. Semasa majlis zikir pada waktu pagi pun, dia bercerita dan memberi tazkirah mengenai cinta kepada Rasulullah. Subhanallah…insaf rasanya apabila merasakan diri ini hanya mampu melafazkan cinta kepada nabi tetapi jauh sekali rasanya kedudukan cinta nabi itu di hatiku mahupun dengan amalanku. Astaghfirullah….
RAHMATAN LIL ‘ALAMIN
Hadirnya baginda ke dunia ini menjadi rahmat besar ke seluruh alam. Bukan sekadar kepada masyarakat Arab di semenanjung tanah arab, bahkan semua orang di atas muka bumi ini. Malah rahmat ini meluas bukan sahaja kepada manusia, tetapi kepada makhluk-makhluk Allah yang lain termasuk malaikat, binatang, tumbuhan, jin, batu-batu dan sebagainya. Rahmat ini datang dengan pakej Islam, bukan dengan pakej lain. Bukan dengan pakej bangsa Arab, bukan dengan pakej nasionalisme, bukan dengan pakej kapitalisme, akan tetapi hanya dengan Islam!! Dengan kata lain, rahmat ini hanya dapat dirasai sekiranya kita mengamalkan Islam. Kita tidak merasai rahmat ini seratus peratus sekiranya kita mencampurkan Islam dengan perkara lain. Malah, rahmat ini dapat dirasakan oleh orang bukan Islam sekiranya Islam dilaksanakan.
BUKAN TEPUK SEBELAH TANGAN
Kalau orang sedang bercinta, mereka sering katakan “Aku bertepuk sebelah tangan” sekiranya cintanya tidak diterima orang atau dia hanya syok sendiri. Kita pun telah mengetahui betapa banyak orang yang frust bercinta hanya kerana cintanya tidak berbalas. Ini fenomena dalam cinta haram atau cinta monyet. Cinta yang dianjurkan oleh Islam amat berbeza benar, sama ada bercinta dengan Allah mahupun cinta kepada Rasulullah S.A.W.
Percintaan dengan S.A.W amat unik kerana baginda telah dahulu memulakan percintaan ini, sebelum kita semua memulakannya. Baginda telah menyintai kita semua sebelum kita semua menyintainya. Baginda telah menghulurkan tangannya untuk bertepuk dengan kita sambil menunggu kita untuk membalasnya. Ironinya, nabi S.A.W tidak memerlukan kepada balasan kita sebenarnya. Baginda memulakannya kerana ingin melihat kita bahagia dan senang di akhirat kelak.
Ketikamana Rasulullah bersabda “Sesiapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat (berdoa) ke atasnya (sesiapa yang berselawat) dengan 10 kali selawat”, Rasulullah amat gembira dengan kurniaan Allah S.W.T tersebut. Bukanlah gembira dengan pujian dan limpahan doa yang bakal dilakukan oleh umat kepadanya, akan tetapi baginda gembira dan seronok apabila Allah akan memberikan ganjaran yang banyak kepada umatnya. Mana tidaknya, sekali kita berselawat kepada nabi, Allah akan membalasnya dengan 10 kali lebih baik daripada itu. Imam Sakhowi ketika mengulas perkara ini mengatakan bahawa satu selawat Allah (doa) kepada umatnya lebih baik daripada membuat 1000 kebajikan. Lihatlah cintanya nabi kepada kita semua, lebih memikirkan nasib umatnya berbanding perkara lain.
Kita juga tidak boleh melupakan jasa nabi Muhammad S.A.W ketika menerima ibadah solat fardhu pada peristiwa Isra’ Mikraj. Daripada 50 rakaat yang ditaklifkan, nabi berusaha untuk mengurangkan bilangan tersebut sehinggalah menjadi 5 rakaat seperti sekarang selepas mendapat signal daripada nabi Musa yang menyatakan umat akhir zaman ini tidak mampu melakukan ibadah sebanyak itu. Lalu turun-naik lah nabi berjumpa Allah untuk mengurangkan bilangan tersebut lantaran memikirkan umatnya walaupun dia sendiri ‘tebal muka’ untuk meminta pengurangan itu. Ada sebahagian riwayat menyatakan daripada 50 rakaat yang disyariatkan, ia dikurangkan 5 rakaat setiap kali nabi mengadap Allah. Secara congakan akal yang dangkal ini, bermakna 9 kali nabi S.A.W turun-naik secara tebal muka untuk berunding bagi urusan umatnya!! Akhirnya dengan sifat kasih sayang Allah jua, kita hanya difardhukan untuk menunaikan 5 kali solat sehari tetapi pahalanya tetap sama dengan 50 rakaat yang mula disyariatkan !!
Saat-saat akhir nabi di alam ini adalah isyarat yang paling jelas kepada kita bahawa baginda telah memulakan proses percintaan ini sebelum kita memulakannya. Ketika baginda nazak menghadapi sakaratul maut, baginda masih menyebut “Ummati, ummati, ummati (umatku, umatku, umatku)”. Jika kita fikir-fikirkan pun, tak mungkin orang yang sakit akan menyebut perkara yang lain ketika sakitnya melainkan mengerang kesakitan. Akan tetapi kerana cintanya kepada umatnya, baginda masih memikirkan umatnya walaupun di penghujung usia…. Ya Allah !!!!
MEMBALAS CINTA
Sudah menjadi resam orang bercinta, cinta itu akan menjadi asyik dan amat memabukkan jika cinta itu berbalas. Begitu juga bentuk cinta ini. Baginda telah menghulurkan cintanya, maka kitalah perlu menyambutnya. Malangnya kita pada hari ini, tidak mabuk dengan cinta kepada Allah dan cinta kepada nabi tetapi mabuk dengan cinta monyet dan cinta manusia yang fana’. Kita perlu memuhasabah kembali sejarah yang telah dilalui semoga generasi akan datang tidak kering dan gersang dengan cinta kepada Rasul mereka.
Sememangnya kesilapan bermula sejak awal lagi. Ketika kita kecil, kita tidak diajar untuk mencintai baginda. Kita lebih dulu diajar A-B-C sebelum diajar mengenali nabi. Kita lebih dulu diajar 1-2-3 sebelum kita diajar mencintai nabi. Malah amat mengecewakan perkara ini tidak langsung mendapat perhatian ibu bapa. Kita boleh lihat, anak-anak kini dibesarkan dengan watak-watak animasi Pokemon, Doraemon, Superman, Power Rangers dan Mickey Mouse. Astro menjadi pendidik kanak-kanak kini menggantikan peranan ibu bapa yang sepatutnya berperanan. Bagaimana perkara ini boleh terjadi? Tepuk dada, tanya iman.. Islam awal-awal lagi telah mengajar bagaimana kita hendak mendidik anak-anak dengan betul. Rasulullah pernah bersabda ;
أَدِّبوا أولادَكم على ثلاثِ خِصَالٍ حبِّ نبيكم وحبِّ أهل بيته وقراءةِ القرآن فإن حملة القرآن فى ظل الله يوم القيامة يوم لا ظل إلا ظله مع أنبيائه وأصفيائه
“Didiklah anak-anak kamu dengan 3 perkara – Cinta kepada nabi, cinta kepada keluarga nabi dan membaca al-Quran kerana orang yang menjadi ahli al-Quran akan berada di bawah naungan Allah bersama para anbiya’dan para sufi ketika hari kiamat di mana pada ketika itu tiada naungan lain kecuali naungan Allah”
Oleh kerana itu, kita semua perlu memupuk cinta ini dalam diri masing-masing. Sekiranya kita ada anak-anak, ajarkanlah mereka cinta kepada nabi sebelum mereka mengenali artis ataupun ikon animasi lain. Sekiranya kita seorang guru, selalulah bercerita kepada murid-murid mengenai nabi, insyaAllah daripada menceritakan peribadi baginda, orang akan jatuh cinta kepadanya. Walaubagaimanapun, ia perlu sentiasa dihangatkan dan jangan ditinggalkan. Umpama hubungan suami dan isteri, cinta akan menjadi lebih kuat apabila ia sentiasa dihangatkan dengan pengorbanan dan persefahaman.
Kesan perasaan cinta ini, kita akan membuktikannya dengan amalan kita. Bukti kecintaan yang paling besar ialah mengamalkan sunnahnya. Bukan sekadar mengamalkan sunnah-sunnah yang kecil seperti bersiwak, memakai serban atau memakai capal seperti capal Rasulullah, akan tetapi juga mengamalkan sunnah yang lebih besar seperti menjadi pewaris anbiya’ iaitu ulama’, membina negara dan berusaha mendaulatkan Islam. Kita juga akan bangkit ketikamana baginda dihina seperti yang berlaku di Denmark sebelum ini. Begitu juga kecintaan ini akan menyebabkan kita sentiasa mengingati baginda dengan berselawat kepadanya. Selawat inilah yang akan menjadi charger cinta kita kepada nabi S.A.W.
MEMPERINGATINYA SEMPENA KEPUTERAAN BAGINDA
Menyambut keputeraan baginda merupakan satu peluang bagi kita mengingatinya. Ini bukanlah bermakna kita hanya mengingatinya pada hari kebesaran baginda dan melupakannya pada hari-hari yang lain. Kita amat berbeza dengan orang barat. Orang barat merayakan Hari Ibu kerana mereka tidak berkesempatan untuk berbuat baik kepada ibu mereka pada hari-hari yang lain. Pada Hari Ibu, mereka pulang ke rumah dan memberi hadiah kepada ibu-ibu mereka kerana tidak sempat berbuat baik pada hari-hari lain. Begitu juga dengan Valentine Day..Semuanya dari barat yang sesat dan lemas dengan kehidupan dunia mereka. Islam tidak begitu. Islam menganjurkan kita sentiasa berbuat baik kepada sesiapa sahaja termasuk ibu bapa kita pada setiap masa dan waktu, malah melarang kita derhaka kepada mereka hatta tidak boleh berkata ‘Uh’ kepada mereka.
Begitu juga apabila kita menyambut keputeraan Rasulullah (Maulidurrasul). Bukan bermakna kita hanya mengingati baginda pada hari ini. Kita mengingati baginda mereka setiap hari dan setiap waktu solat kita apabila melafazkan selawat kepada baginda pada waktu tahiyyat. Pada hari maulid ini, kita hanya meningkatkan lagi rasa kasih dan sayang kita kepadanya lebih daripada hari-hari yang lain. Moga-moga dengan mengingati baginda akan menguatkan lagi azam kita untuk menjadi pejuang agama dan sunnahnya.
RASULULLAH DI HATI KITA
Sebenarnya amat bertuah kita menjadi umat nabi Muhammad. Tidakkah kita ingat bahawa para rasul yang lain ingin benar menjadi umat Muhammad kerana banyak kelebihan yang diberikan oleh Allah. Namun itulah takdir, hanya insan yang terpilih menjadi umat utusan akhir ini.
Kita telah mengetahui pengorbanan Rasulullah dan juga betapa tingginya cinta baginda kepada kita. Baginda telah meletakkan kita sebagai umatnya di tempat yang tinggi di dalam hatinya. Setelah mengetahui ini semua, kita perlu persoalkan kepada diri kita sendiri, siapa pula Rasulullah di hati kita sekarang? Adakah kita telah meletakkan nilai cinta kita ini lebih tinggi daripada cinta kita terhadap dunia? Atau cinta kepadanya sama sahaja seperti kasih kita kepada orang-orang lain di atas muka bumi ini? Atau lebih teruk lagi, kita tidak langsung berasa cintakan Rasulullah. Tatkala orang menghina Rasulullah, kita hanya melihat dari jauh tanpa bangkit. Tatkala orang memijak-mijak sunnah Rasulullah dengan mengambil sumber panduan lain daripada al-Quran dan sunnah, kita tidak bersuara dan kadang-kadang tu menyokong pula.
Wahai sahabat-sahabat, apakah nasib kita di akhirat nanti tanpa cinta ini? Dengan siapa kita mahu mohon syafaat selain daripada Rasulullah? Layakkah kita mendapat syafaat baginda di akhirat tanpa cinta suci ini? Apakah kesudahan kita semua di akhirat? Ya Allah, berilah kekuatan kepadaku untuk menjadi umat Muhammad yang cinta kepadanya….
Bab:
rasulullah




