Warkah
Tentera 4JJI
Berkata Benar (1)
Ainul Mardhiah merupakan seorang bidadari yang paling cantik dikalangan bidadari-bidadari yang lain. Suatu pagi (dalam bulan puasa) ketika nabi memberi targhib (berita-berita semangat di kalangan sahabat untuk berjihad pada agama Allah) katanya siapa-siapa yang keluar di jalan Allah tiba-tiba ia shahid, maka dia akan dianugerahkan seorang bidadari yang paling cantik dikalangan bidadari2 syurga. Mendengar berita itu seorang sahabat yang usianya sangat muda teringin sangat nak tahu bagaimana cantiknya bidadari tersebut.... tetapi dia malu nak bertanyakan kepada nabi kerana malu pada sahabat-sahabat yang lain. Namun dia tetap beri nama sebagai salah sorang yang akan keluar/pergi. Sebelum Zohor sunnah nabi akan tidur sebentar (dipanggil khailulah, maka sahabat yang muda tadi juga turut bersama jemaah tadi... tidur bersama-sama....
Dalam tidur tersebut dia bermimpi berada di satu tempat yang sungguh indah, dia bertemu dengan seorang yang berpakaian yang bersih lagi cantik dan muka yang berseri2 lalu ditanyanya dimanakah dia... lalu lelaki itu menjawab inilah syurga. Lalu dia menyatakan hasrat untuk berjumpa dengan 'Ainul Mardhiah... lalu ditunjuknya di suatu arah maka berjalan dia... di suatu pepohon beliau mendapati ada seorang wanita yang tak pernah dia lihat kecantikan begitu... takpernah dilihat didunia ini... lalu diberi salam dan dia bertanya andakah ainul mardhiah... wanita itu menjawab ehh tidakk... saya khadamnya ainul mardhiah ada di dalam singgahsana sana.
Lalu dia berjalan dan memasuki satu mahligai yang cukup indah dan mendapati ada seorang lagi wanita yang kecantikannya berganda-ganda dari yang pertama tadi sedang mengelap permata-mata perhiasan di dalam mahligai.... lalu diberi salam dan di tanya lagi adakah dia ainul mardiah lalu wanita itu menjawab...eh tidakkk saya hanya khadamnya di dalam mahligai ini... ainul mardiah ada di atas mahligai sana,..... lalu dinaikinya anak-anak tangga mahligai permata itu kecantikkannya sungguh mengkagumkan... lalu dia sampai ke satu mahligai dan mendapati seorang wanita yang berganda-ganda cantik dari yang pertama dan berganda-ganda catiknya dari yang kedua.... dan
tak pernah dia lihat di dunia.... lalu wanita itu berkata ... akulah ainul mardhiah, aku diciptakan untuk kamu dan kamu diciptakan untk aku.... bila lelaki itu mendekatinya wanita itu menjawab... nantiii!!! kamu belum syahid lagiiii......tersentak itu pemuda itu pun terjaga dari tidurnya lalu dia menceritakan segala-galanya kepada satu sahabat lain, namun begitu dia memesan agar jangan menceritakan cerita ini kepada nabi SAW... tapi sekiranya dia shahid barulah ceritakan kepada nabi.
Petang itu pemuda itu bersama-sama dengan jemaah yang terdapat Nabi di dalamnya telah keluar berperang lalu ditakdirkan pemuda tadi telah shahid. Petang tersebut ketika semua jemaah telah pulang ke masjid, di waktu hendak berbuka puasa maka mereka telah menunggu makanan untuk berbuka (tunggu makanan adalah satu sunnah nabi). Maka kawan sahabat yang shahid tadi telah bangun dan merapati nabi SAW dan menceritakan perihal sahabat nabi yang syahid tadi... dalam menceritakan itu nabi menjawab benar... benar...benar... dalam sepanjang cerita tersebut. Akhirnya nabi SAW berkata memang benar cerita sahabat kamu tadi dan sekarang ini dia sedang menunggu untuk berbuka puasa di syurga.... subhanallah...
p/s : hanya mereka yang beriman mengerti betapa sakitnya jihad itu dan betapa nikmatnya balasan yang dijanjikan. mudah-mudahan ada jodohku di akhirat kelak walaupun d dunia tiada.
Bab:
jihad
Warkah
Tentera 4JJI
Berkata Benar (2)
DUSTA dalam berCINTA iaitu orang yang mengaku CINTAkan ALLAH,
tapi KELUH KESAH dengan UJIAN-NYA..
Mengaku cintakan Nabi MUHAMMAD s.a.w,
tapi ABAIKAN ULAMAK & FAKIR MISKIN..
Mengaku cintakan SYURGA,
tapi TIDAK BERAMAL dengan ketaatan atas perintah-NYA..
Mengaku takutkan API NERAKA,
tapi TIDAK TINGGALKAN LARANGAN-NYA..
Maka, dialah pENDUSTA yang berselindung di sebalik topeng~
..sama-sama muhasabah...
Bab:
renungan
Warkah
Tentera 4JJI
Berkata Benar (0)
Tidak diragukan lagi bahwa jihad dengan berkorban nyawa itu lebih tinggi martabatnya daripada jihad dengan harta. Oleh sebab itu orang-orang kaya di zaman Rasulullah SAW seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, tidak menarik diri dari menyertai mereka dalam jihad dengan nyawa. Karena penggemblengan kepribadian dan semangat itu hanya akan sempurna dan tinggi di dalam dahsyatnya peperangan. Oleh sebab itu Rasulullah SAW berwasiat kepada seorang sahabat dengan sabdanya sebagai berikut:
وَعَلَيْكَ بِالْجِهَادِ فَإِنَّهُ رُهْبَانِيَّةُ اْلإِسْلاَمِ
“Dan wajib atas kamu berjihad, karena ia itu merupakan kependetaan dalam Islam.[1]” (HR Ahmad)
Oleh sebab itu ketika Rasulullah SAW ditanya :
أي فتن المرء في قبره؟ قال: كفى ببارقة السيوف على رأسه فتنة
“Apakah seseorang itu terkena fitnah (adzab) dikuburnya? Rasululllah SAW menjawab: Cukuplah bagi seseorang dengan kilatan pedang di kepalanya[2].” (HR Nasai)
Dalam suatu riwayat Rasulullah SAW telah memperingatkan agar jangan sampai kesibukan duniawi itu melalaikan atau melupakan seseorang dari keharusannya ikut dalam jihad. Pernah di suatu kali Rasulullah SAW menunjuk alat pembajak tanah sambil bersabda:
لا يدخل هذا بيت قوم إلا أدخله الله الذل )رواه البخاري(.
“Tidaklah barang ini dimasukkan ke dalam rumah suatu kaum, melainkan Allah akan menghinakan kaum itu”[3] (Bukhari)
Yakni bila suatu kaum sibuk dengan bercocok tanam di ladangnya sehingga meninggalkan jihadnya, maka kaum tersebut akan ditimpa kerendahan dan kehinaan. Dan dalam kitab Shahih Rasulullah SAW bersabda:
إذا تبايعتم بالعينة، وأخذتم بأذناب البقر، ورضيتم بالزرع، وتركتم الجهاد، سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم
“Bila kamu telah disibukan oleh berjual beli dengan ‘inah (tipu daya) dan kamu sibuk dengan sapi peliharaanmu dan engkau senang dengan cocok tanam dan kemudian engkau tinggalkan jihad, niscaya Allah SWT timpakan pada diri kamu kehinaan yang tidak bisa lepas daripadanya sehingga kamu kembali kepada agama kamu.[4]” (Abu Dawud)
Dan dalam kitab shahih juga terdapat hadits demikian:
لا تتخذوا الضيعة فترغبوا في الدنيا
“Janganlah engkau menyibukkan diri dengan harta yang banyak, niscaya engkau akan mencintai dunia.[5]” (HR Tirmidzi)
Maka dalam hadits-hadits tersebut di atas Rasulullah SAW menyebutkan godaan-godaan dunia dan beberapa sebab yang menyibukkan atau melalaikan jihad, yaitu: Tanah pertanian, perdagangan dengan riba, perdagangan dengan tipu daya, hasil-hasil hewan peliharaan, hasil-hasil industri dan harta kekayaan lainnya. Yang berarti bahwa bila kita menyibukkan diri dengan hal-hal tersebut di atas di waktu Islam dihadapkan kepada perang, hal tersebut termasuk haram dan merupakan pelanggaran syari’ah.
Adapun jihad dengan harta maka hal itu wajib apabila para mujahidin memerlukannya, dan diwajibkan atas wanita dan harta anak kecil juga, bahkan walaupun jihad yang fardhu kifayah sebagaimana yang difatwakan oleh Ibnu Taimiyah[6]. Oleh sebab itu kaum muslimin diharamkan menyimpan atau menabung harta di saat kaum muslimin memerlukannya dalam keperluannya yang sangat mencemaskan. Bahkan Ibnu Taimiyah pernah ditanya; ketika harta kaum muslimin sedikit, sementara timbul kelaparan dan serangan musuh yang bersamaan yang bila ditinggalkan salah satunya akan membahayakan kaum muslimin, mana yang didahulukan?
Ibnu Taimiyah menjawab: Kita akan mendahulukan jihad dalam melakukannya walaupun orang yang kelaparan itu mati karena kelaparan tersebut, sebagaimana dalam masalah tameng hidup. Kalau kita hendak menyerbu musuh, sedangkan di sana musuh menjadikan sebagian kaum muslimin sebagai tameng hidup kita tetap menyerangnya meskipun tawanan yang menjadi tameng hidup itu meninggal karena tindakan kita sedangkan orang kelaparan tadi mati dengan perbuatan Allah SWT.[7]
Al Qurtubi menyatakan, “Para ulama telah bersepakat bahwasanya bila datang keperluan kaum muslimin setelah penunaian zakat, maka kaum muslimin wajib mengeluarkan harta lagi untuk menyelesaikan keperluan tersebut.”[8]
Imam Malik menyatakan wajib atas sekalian kaum muslimin untuk menebus orang-orang Islam yang ditawan musuh walaupun akan menyebabkan habisnya harta mereka dan ini merupakan ijma ulama[9].
Memelihara agama harus lebih didahulukan daripada nyawa dan memelihara nyawa harus lebih didahulukan daripada harta. Maka oleh sebab itu harta orang-orang kaya itu bukanlah sesuatu yang paling mahal dan tidak lebih mahal daripada darahnya kaum mujahidin. Oleh sebab itu para hartawan hendaknya berhati-hati terhadap hukum Allah SWT dalam membelanjakan hartanya. Sedangkan jihad adalah seutama-utama keperluan.
Sementara agama kaum muslimin dan rumah-rumah mereka dihadapkan kepada program penghancuran, dan pada saat yang sama para hartawan tenggelam dalam kenikmatan syahwatnya. Kalau seandainya para hartawan itu menahan diri sehari saja dari segala kenikmatan syahwatnya dan menahan tangannya dari menghambur-hamburkan hartanya dalam kehidupan mewah sehari itu, kemudian disumbangkan kepada kaum mujahidin di Afghanistan, yang mereka itu mati karena kedinginan, dan kaki mereka pecah-pecah karena salju, dan mereka tidak mendapatkan kain untuk menutup dirinya dari kedinginan, dan mereka tidak mempunyai simpanan apa-apa untuk diri mereka sendiri dan untuk menahan darah mereka yang mengalir.
Aku katakan: Seandainya para hartawan itu mau menyumbangkan hartanya yang dipakai untuk membelanjakan kehidupan mewahnya sehari saja kepada para mujahidin Afghanistan, niscaya dengan hartanya itu akan membawa perubahan yang besar dengan idzin Allah SWT dalam jihad mereka menuju kemenangan. Dan para ulama besar sungguh telah mengeluarkan fatwa , yang paling terkenal ialah Syeikh bin Bazz rahimahullah yang menyatakan bahwa membelanjakan zakat bagi kaum muslimin mujahidin Afghanistan adalah sebesar-besar usaha pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan semulia-mulianya sedekah.
Rangkuman:
1. Jihad dengan kesediaan mengorbankan nyawa adalah fardhu ‘ain atas segenap kaum muslimin di seluruh dunia.
2. Tidak ada keharusan idzin dari siapapun dalam menjalankan jihad ini. Oleh sebab itu kedua orang tua tidak mempunyai hak mengidzinkan atau tidak, terhadap anaknya yang akan berangkat jihad fi sabilillah.
3. Jihad dengan membelanjakan harta bagi usaha-usaha memerangi musuh adalah fardhu ‘ain dan haram hukumnya menyimpan harta selama jihad pembebasan suatu wilayah negara kaum muslimin masih berlangsung dan masih memerlukan harta kaum muslimin.
4. Sesungguhnya meninggalkan jihad hukumnya sama dengan meninggalkan shalat dan puasa. Bahkan meninggalkan jihad di hari-hari ini lebih besar dosanya. Ibnu Rusydi menyatakan bahwa jihad bila telah diputuskan untuk dilaksanakan, adalah lebih diutamakan daripada menunaikan haji yang wajib sekalipun
[1] Hadis Hasan. Hadis ini adalah potongan dari hadis yang panjang dengan lafal yang beraneka macam, diriwayatkan dari Abu Sa’id oleh Ahmad, Musnad, 3:82, ath-Thabrani, Mu’jam ash-Shaghir, 2:156, Abu Ya’la, al-Musnad, . Diriwayatkan pula dari Abu Dzar oleh Ibnu Hibban, Mawarid Dham’an 1:52-56 dan Shahih Ibnu Hibban, 2:76-81. at-Thabrani, Musnad al-Kabir, 2:157, Musnad as-Syihab, 1:431, Dan diriwayatkan dari Anas bin Malik oleh Ibnu al-Mubarak,Kitab al-Jihad, 1:35
Lihat juga di Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, al-Albani, no hadis, 4305
[2] Hadis Mursal shahih, hadis ini diriwayatkan secara mursal oleh Rasyid bin Sa’d di dalam an-Nasa’I, Sunan Kubro, 1;660, as-Sunan, 4;99, Ibnu Abi Ashim, al-Jihad, 2;571
Periksa juga, shahih al-Jami’ ash-Shaghir, al-Albani, no hadis 4359
[3] Hadis Shahih, diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili oleh Bukhari, ash-Shahih, 2;817, Lihat juga pada Silsilah Ahadits Shahihah, al-Albani, nomor hadis 10
[4] Hadis Shahih, diriwayatkan dari Ibnu Umar oleh Abu Dawud, as-Sunan, 3;274, Ahmad, al-Musnad, 2;28, 84, al-Baihaqi, Sunan al-Kubro, 5;316, Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, al-Albani, nomor hadis 11
[5] Hadis hasan, diriwayatkan dari Ibnu Umar, oleh at-Tirmidzi, as-Sunan, 4;565, Ibnu Hibban, ash-Shahih, 2;487, Mawarid adh-Dham’an, 1;612, al-Hakim, al-Mustadrak, 4;358, Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 7;84, Ahmad, al-Musnad, 1;377,426,443. LihatSilsilah Ahadits Shahihah, al-Albani, nomor hadis 12
[6] Al-Fatawa al-Kubro, 4;607
[7] al-Fatawa al-Kubro, 4;608
[8] al-Qurthubi, 2;242
[9] Ibid
Bab:
bedah buku
Warkah
Tentera 4JJI
Berkata Benar (0)
Sengaja aku mahu nukilkan sesuatu untukmu.. kegundahan yang menyenak di sanubari...
kehairanan yang menyerbu di minda... seribu satu persoalan yang menerjah di hati...
aku hairan...
mengapa semasa rusuhan mesir,
nampak kau begitu cemas...
mungkin kerna ada saudara2mu disana ye?
tapi apabila rusuhan melanda di negara lain seperti libya..
tidak pula kau mahu ambil tahu...
sekarang pula, apabila tsunami melanda di Jepun,
kau masih lagi tak tahu dan mungkin juga kau buat-buat tak tahu..
bagaimana di tempat2 lain pula...?
aku benar-benar hairan.
tidak tahukah dikau bahawa mereka juga manusia...?
duhai si luncai..
tidak tahukah, bala ALLAH itu peringatan untuk kita...
tidak tahukah bahwa malang itu tidak berbau..
tidak tahukah bahwa ajal itu rahsia Tuhan..
sedangkan JEPUN yang mempunyai kemajuan teknologi yang luar biasa itu bisa hancur ranap dengan sekelip mata...
apatah lagi kita di bumi MALAYSIA yang dikelilingi dengan pantai yang luas ini...
duhai si luncai.. mengapa masih temanggu...?
kenapa masih leka dgn kehidupan sendiri...
masih 'sibuk' dengan hal peribadi...
masih sedap gosip memanjang...
masih asyik dengan hiburan yang tak berkesudahan...
masih akur dengan hasad dengki yang membahang...
masih rasa 'aman' yang tak sudah2...
sedang disana sudah berjuta2 roh menusia yang terbang melayang bertemu ROBBI...
apakah yang sudah melanda akal dan budayamu?
sudah hilang sensitiviti sesama manusia kah.....?
apakah kerna tiada saudara/sahabat yg kita kenal disana kah?
atau kerna bukan tempat kita yang kena, jadi kau tak perlu untuk gundah gulana....?
apakah ini...?
ini puisi buatmu...
SI LUNCAI TERJUN DENGAN LABU-LABUNYA! (saifulislam)
Bencana itu sudah tiba di Jepun!
Tak apa. Kita kan di Malaysia…
Bencana itu sudah tiba di Johor!
Tak apa. Kita kan di Selangor…
Bencana itu sudah tiba di Gombak!
Tak apa. Kita kan di Petaling Jaya…
Bencana itu sudah tiba di Seksyen 5!
Tak apa. Kita kan di Seksyen 2…
Bencana itu sudah tiba di Jalan 2/4!
Tak apa. Kita kan di Jalan 2/8…
Bencana itu sudah tiba di rumah nombor 47!
Tak apa. Kita kan di rumah nombor 74…
Bahagian depan rumah kita sudah runtuh!
Syukur. Dapur kita masih selamat…
Memperkenalkan… mazhab Aku Tidak Pedulisma!
sumber :http://husna89.blogspot.com/
Bab:
renungan



